 | | Feb 1, 2009 |
Myspace Layouts Sudahkah aku menebarkan senyum untuk orang lain hari ini...? Sudahkah aku bersyukur atas karunia Allah hari ini...? Sudahkah kutinggalkan kedzoliman bagi diriku sendiri dan orang lain...? Sudahkah aku meninggalkan maksiat kepada Allah hari ini...?
- Pendahuluan
Berbicara mengenai Yahudi tidak ada habisnya. Ini dikarenakan panjangnya sejarah bangsa tersebut yang meliputi periode awal Yahudi, masa pembuangan, hingga pendirian negara Israel dan juga sejarah Yahudi abad sekarang (abad ke-21). Sejarah awal kemunculan bangsa ini hingga sekarang memang mendapat respon pro dan kontra untuk diperdebatkan. Apa yang terjadi di dalam sejarah Yahudi akan melekat dan bersinggungan dengan 2 agama besar lainnya, yakni Kristen dan Islam. Di mana ketiga agama ini sama-sama mengklaim dari satu rahim Nabi Allah, yakni Ibrahim. Namun di antara ketiganya, Yahudi terkesan lebih “angkuh” dalam bersikap dan keyakinan. Doktrin “umat terpilih (choosen people)” dan “tanah yang dijanjikan (the promised land)” dalam kitab suci mereka, membuat bangsa Yahudi seolah menutup mata dan merendahkan umat bangsa dan agama lain. Akhirnya, sejarah sampai saat ini mencatat perilaku mereka yang menindas bangsa lain. Polemik dan sejarah panjang yang terjadi pada bangsa ini menarik untuk lebih mengenal tentang siapa itu bangsa Yahudi, ciri-cirinya, kelebihan dan kekurangan bangsa ini, serta tempat tinggal geografis mereka. - Definisi
Yahudi dikenal sepanjang sejarah dengan lebih satu nama. Disebabkan banyaknya nama tersebut, maka sering terjadi kekeliruan dalam memahaminya. Padahal nama-nama tersebut memiliki makna tersendiri yang bersifat khusus dan pada waktu yang sama mengisyaratkan kepada fase sejarah tertentu dalam sejarah Yahudi. Setidaknya terdapat tiga istilah yang sering melekat pada bangsa Yahudi, yakni ‘Ibri, Israel, dan Yahudi. 1. ‘Ibri atau ‘Ibrani Kata ‘Ibri adalah bentuk tunggal, bentuk jamaknya ‘Ibriyyun. Disebut juga dengan ‘Ibrani atau ‘Ibraniyyun yang dinisbahkan kepada nabi Ibrahim a.s. Karena dalam Taurat Ibrahim disebut Abram al-‘Ibraniy (Abram orang Ibrani). Sebagian ahli berpendapat Ibrahim disebut ‘Ibri dikarenakan ia telah menyeberangi sungai. Dan sungai yang dimaksud adalah sungai Furat (Eufrat), namun ada yang memperkirakan sungai tersebut adalah sungai Yordan. Di samping itu, kata ‘Ibri juga mengandung makna lain, yakni keterasingan atau orang asing. Namun semua ini, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syalabi, ditentang oleh Dr. Israil Walingson. Dia berpendapat bahwa kata ‘Ibri tidak merujuk pada suatu kejadian (peristiwa) maupun pada nama seseorang. Melainkan kata ‘Ibri merupakan nama daerah asal bagi Bani Israil. Adapun Bani Israil dulunya merupakan suku pedalaman yang tinggal di padang pasir. Mereka merupakan bangsa nomaden yang tidak memiliki tempat tinggal khusus. Mereka kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari air dan tempat menggembala ternak. Kata ‘Ibri sendiri berasal dari akar kata “’abara” (عَبَرَ), yang berarti memotong jalan, oase, atau sungai. Atau juga berarti menempuh jalan. Dan istimewanya, makna kata ‘Ibri sama-sama terdapat dalam bahasa Arab dan bahasa Ibrani. Artinya, secara global makna kata ini adalah berpindah-pindah. Di mana berpindah-pindah merupakan ciri khusus yang dimiliki penduduk padang pasir (sukkan al-shokhro’) dan penduduk pedalaman (ahl al-badiyah). Maka kata ‘Ibri bisa juga berarti badawi (penduduk padang pasir atau pedalaman). Sehingga konon bangsa Kan’an, Mesir dan Palestina menyebut Bani Israil dengan sebutan ‘‘Ibriyyun, yakni bangsa yang tinggal di padang pasir atau pedalaman. Penyebutan ini dimaksudkan untuk membedakan Bani Israil dari penduduk kota. Kemudian setelah mereka menempati tanah Kan’an, mereka hidup maju dan menetap di sana. Celakanya, mereka lupa akan jati diri mereka pertama kali sebagai ‘‘Ibriyyun atau penduduk padang pasir. Mereka tidak mau disebut ‘Ibri lagi dan memilih untuk menggunakan sebutan Bani Israil. 2. Israel Nama Israel menunjukkan kelebihan kepada bangsa Yahudi dari bangsa-bangsa lain. Israel merupakan kalimat yang terdiri dari dua kata: isra, yang artinya hamba atau teman dekat, dan el, yang artinya tuhan. Maka Israel artinya hamba atau teman dekat Tuhan atau hamba pilihan tuhan. Nama Israel ini diberikan khusus oleh Tuhan kepada Ya’kub a.s. Ini dikarenakan Ya’kub berhasil mengalahkan Tuhan dan manusia. Memang kata Israel dinisbahkan kepada Ya’kub a.s. Namun, sesuai yang dikabarkan al-Quran tidak ada sebab khusus penisbahan tersebut. Artinya, menurut al-Qur’an tidak benar kalau Ya’kub a.s telah berkelahi dengan Tuhan dan mengalahkan-Nya. Bahkan para pakar sejarah agama menyebut kisah kalahnya Tuhan di tangan Ya’kub ini adalah Myth of Origin atau Actiological Myth. Menurut Khalifah Hasan sebutan Israel ini sejatinya memisahkan antara keturunan nabi Ishaq a.s dengan keturunan nabi Ismail a.s. Artinya, tujuan dari kisah Taurat di atas hanyalah rasis semata. Yakni, pengkhususan mereka sebagai keturunan Ya’kub a.s dan menyebutkan mereka sebagai orang-orang Israel untuk merendahkan keturunan Ismail a.s. 3. Yahudi Pakar Ilmu Perbandingan Agama, al-Syahrastani mengatakan bahwa Yahudi adalah umat Nabi Musa dan memiliki kitab suci yang bernama Taurat. Nama Yahudi sendiri diambil dari Yahudza, salah satu keturunan Ya’kub a.s. Sebenarnya, istilah Yahudi lebih luas maknanya daripada istilah Bani Israel dan ‘Ibrani. Hal ini karena istilah Yahudi disematkan kepada kaum Ibrani, juga disematkan kepada orang-orang non-Ibrani yang memeluk agama Yahudi. Jadi seseorang yang masuk Yahudi akan tetapi bukan berasal dari bani Israel, maka ia boleh disebut sebagai Yahudi dan tidak boleh disebut bani Israel. Namun sekarang, pengertian makna Yahudi berkembang. Istilah ini bisa bermakna sebuah agama dan bisa juga bermakna sebagai bangsa. 3.a. Yahudi Sebagai Agama Sebagai agama Yahudi merupakan salah satu agama samawi. Yahudi adalah agama yang pertama kali muncul untuk mentauhidkan Allah SWT. Perlu dijelaskan bahwa Yahudi sebagai agama diturunkan oleh Tuhan tidak dalam keadaan sempurna. Artinya, syari’at dan ajarannya tunduk pada sejarah sehingga menyebabkannya mengalami perubahan yang kontinyu. Adapun faktor yang mempengaruhinya bisa dibagi menjadi dua. Pertama, agama Yahudi dalam sejarah pernah tunduk di bawah beberapa pemerintahan. Kedua, bangsa dan penganut Yahudi mengalami diaspora. Ini menyebabkan mereka tercerai-berai ke dalam beberapa kelompok komunitas yang hidup di negara-negara yang terpisah di bawah kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dahulu umat Yahudi tidak memiliki tempat ibadah khusus untuk menyembah Tuhan mereka. Namun, mereka kemudian menjadikan Sinagog, yang awalnya hanyalah tempat kumpul-kumpul mereka sebagai bangsa yang tercerai, sebagai tempat ibadah khusus mereka. Kemudian akibat yang lain adalah munculnya beranekaragam sekte dalam Yahudi yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Sekte Samaria misalnya, mereka berbeda dengan kaum Yahudi lain. Mereka hanya beriman kepada Taurat yang mereka namakan Taurat Musa. Mereka menolak Perjanjian Lama kecuali Kitab Yesaya, dan juga menolak Talmud. 3.b. Yahudi Sebagai Bangsa Sebagai bangsa, Yahudi merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim a.s yang beristrikan Sarah dan Hajar. Dari Hajar lahirlah Nabi Ishaq a.s., yang mempunya putra bernama Ya’qub yang bergelar Israil, sehingga anak-anak cucunya diberi gelar Bani Israil. Diantara keturunan Ya’qub a.s adalah Yusuf a.s, yang pernah menjabat sebagai menteri pertanian Mesir. Ketika musim Paceklik tiba nabi Ya’qub dan keluarga hijrah ke Mesir dan menetap dan berkembang disana. Di antara mereka terdapat ratusan ribu orang Yahudi yang rata-rata berotak cerdas akan tetapi berwatak kejam, arogan, kikir, dan mementingkan materi, dan berkeinginan mengusai bangsa lain sehingga mereka menjadi ancaman bagi masyarakat Mesir ketika itu dan masyarakat international saat ini. Mengetahui hal itu raja Ramses II yang bergelar Fir’aun menjadikan mereka budak. Sampai pada masa Nabi Musa, bani Israel diperintahkan untuk keluar dari Mesir untuk menyelematkan diri mereka dari penindasan Fir’aun. Setelah keluar dari Mesir mereka terkatung-katung di Padang pasir Sinai karena mereka tidak mematuhi perintah nabi Musa yang telah mendapatkan wahyu Taurat di bukit Thursina, bahkan sebaliknya mereka menyembah anak sapi. Dan mereka juga mengabaikan perintah Nabi Harun as untuk memasuki negeri Kan’an. Pada masa Nabi Daud mereka berhasil memasuki negeri Kan’an dan menguasai Yerussalem, namun mereka tidak dapat menguasai seluruh wilayah Kan’an (Palestina). Setelah wafatnya nabi Daud, pemerintahan dipegang oleh putranya Nabi Sulaiman a.s. Dan setelah itu kerajaan Yahudi terbagi menjadi dua, yaitu kerajaan Yudea yang beribu kota di Yerussalem dan kerajaan Israil yang beribu kota di Samaria. Kerajaan Israel berakhir pada tahun 722 SM, ditaklukkan oleh Sargon dari Assyria. Sedangkan kerajaan Yudea berakhir pada tahun 586 SM, ditaklukkan oleh Nebukhadnezar dari Babilonia. Dari ketiga definisi di atas jelaslah bahwa bangsa Yahudi awalnya merupakan orang-orang ‘Ibri, yakni suku pedalaman, tertinggal dan hidup berpindah-pindah. Setelah mereka hidup menetap dan taraf hidup mereka maju, mereka melupakan sebutan ‘Ibri itu dan lebih suka menggunakan sebutan Israel di mana di dalamnya terdapat muatan politis. Yakni, pengakuan mereka sebagai satu-satunya bangsa yang mulia. Kemudian sebutan mereka bermetafor menjadi Yahudi karena mereka memang anak keturunan Yahudza ibn Ya’kub a.s. Dalam perkembangan selanjutnya, Yahudi akhirnya menjadi nama sebuah agama dan juga bangsa. - Ciri-Ciri
Bangsa Yahudi merupakan keturunan dari ras Semit yang secara umum memiliki ciri-ciri fisik berambut pirang, bermata biru dan berhidung besar yang bengkok. Namun beberapa ciri-ciri mereka bisa diidentifikasi sesuai kelompok-kelompok Yahudi yang ada di bumi. Adapun Yahudi secara garis besar terbagi menjadi 3 kelompok: Ashkenazi, Sefardim, dan Mizrahim. Yahudi Ashkenazi adalah orang-orang Yahudi Eropa, terutama dari Eropa Timur, bahasa yang mereka pakai biasanya adalah bahasa Yiddish. Zaman sekarang kaum Ashkenazim di Eropa sudah hampir punah, mereka banyak didapati di Amerika Serikat dan Israel. Kelompok ini dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi dengan tingkat skor IQ tertinggi di dunia. Yahudi Sefardim adalah kelompok Yahudi yang berasal dari Jazirah Iberia. Sefardim adalah bentuk plural dari "Sefard", yang berarti "Spanyol". Kata ini digunakan untuk merujuk orang-orang Yahudi yang berasal dari Iberia (kini Portugal dan Spanyol), termasuk keturunan mereka yang diperintahkan meninggalkan Spanyol ketika penguasa Katolik Ferdinand dan Isabella merebut kembali dari tangan orang Islam yang membebaskan Spanyol pada 711 M. Yahudi Mizrahim artinya orang dari timur. Yang dimaksud orang dari timur adalah orang suku Yahudi yang pada zaman dahulu berevolusi/mutasi/tinggal di daerah bagian timur (seperti negara yang ada di timur tengah, afrika utara, Asia bagian tengah, India, dan bagian kecil di Asia Timur, yang masih mempunyai hubungan darah atau keturunan Yahudi sampai sekarang. - Keistimewaan Bangsa Yahudi
Setidaknya ada empat sifat atau watak yang memungkinkan Yahudi menjadi bangsa yang kuat dan berpengaruh. Pertama adalah etnosentrisme, yakni sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri dan meremehkan kebudayaan yang lain. Pada kenyataannya masyarakat dan kebudayaan Yahudi cenderung pada kolektivisme, berbeda dengan Barat yang cenderung individualisme dan masyarakat Timur yang cenderung klasifikasisme. Etnosentrisme telah menjadi watak setiap Yahudi, di manapun mereka berada pasti mengisolir diri mereka dari masyarakat lain sehingga mereka memiliki hubungan kokoh satu sama lain, satu kesatuan yang penting dalam melahirkan kelompok yang efektif dan aroganis. Keistimewaan lain adalah Kecerdasan, mayoritas Yahudi adalah Yahudi Ashkenazi. Kelompok yang sangat cerdas, dengan rata-rata IQ diatas 115, dan IQ verbal lebih tinggi. Karena IQ verbal merupakan persyaratan terbaik dalam mencapai kesuksesan kerja dam mobilitas maju di dalam masyarakat sekarang, maka tak aneh bila Yahudi merupakan kelompok elit di AS. Mengenai mengapa bangsa Yahudi itu pintar, Dr. Stephen Carr Leon telah melakukan penelitian mengapa ini bisa terjadi. Selama tiga tahun di Israel akhirnya dia berkesimpulan bahwa kecerdasan ini dimulai pembentukannya dari awal. Orang-orang Yahudi memiliki tingkat keseriusan dalam mendidik anak-anak mereka. Dari sejak mengandung sampai anak-anak tersebut besar, mereka tidak pernah melepaskan anak-anak mereka dari musik dan matematika. Dan yang unik mereka tidak diperbolehkan untuk merokok. Cara mereka makan dan apa yang dimakan juga diperhatikan. Sejak awal mengandung mereka suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu.Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. Keistimewaan selanjutnya adalah gigih secara psikologis. Orang Yahudi memiliki watak pantang menyerah, bila mereka menghadapi soal-soal yang berhubungan dengan kelompok mereka dan Negara Israel, mereka akan melakukan segala-galanya untuk mencapai tujuan dan keberhasilan. Keempat adalah agresif. Orang Yahudi bertindak lebih agresif terhadap mereka yang hidup disekelilingnya, dan dianggap agresif karena kritikan mereka. Bahkan mereka melakukan demikian meskipun harus melanggar ajaran agama. Mereka dengan agresif merebut perekonomian suatu daerah yang mereka tempati. Agresifitas Yahudi membawa mereka menjadi penguasa media masa, imformasi dan ilmu-ilmu sosial yang memudahkan mereka untuk merusak orang-orang selain mereka dan memutar balikkan fakta yang ada. Tak aneh apabila orang Yahudi termasuk orang yang cepat berkembang dan maju dibanding dengan yang lain. Keistimewaan-keistimewaan ini membuat bangsa Yahudi terus maju dan berkembang. Fakta membuktikan bahwa media cetak di Amerika sudah mereka kuasai: The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Post. Ketiga surat kabar ini merupakan induk media cetak yang ada di Amerika dan sebagian besar dunia, adapun Koran-koran yang lain sekedar menyalin dan meneruskannya keseluruh dunia. Majalah Time yang sangat pupoler di telinga kita, dengan menyajikan berita-berita yang sangat konflit dan terpercaya, ternyata pemiliknya adalah seorang Yahudi. Selain media cetak, mereka juga terjun dalam media elektronika. Bagi mereka, media elektronik bisa menyebarkan misi dan ide-ide mereka sampai keseluruh pelosok dunia, juga bidang ini menghasilkan uang bagi mereka. Di antaranya adalah Walt Disney Company (dalam bidang hiburan), CNN, ABC, dan NBC (dalam bidang berita dan siaran televisi), MCA dan Universal Picture (dalam bidang perfilman). Cita-cita Yahudi dalam menguasai dunia tidak hanya dalam bidang ekonomi dan media massa, akan tetapi dalam bidang politik juga. Untuk menguasai politik international mereka menyebarkan politikus-politikus mereka di setiap departement pemerintahan Amerika Serikat. Jerry D. Gray dalam buku American Shadow Governmrent menyatakan bahwa pemerintahan Amerika sekarang sudah dikuasai oleh Yahudi dengan berbagai macam manuver politik yang mereka lakukan. Mereka mendirikan lembaga Lobi Politik AIPAC (Amerika Israel Public Affairs Commite) dan FEMA (Federal Amergency dan Management Agency). Yang mencengangkan kekuatan organisasi ini dapat menurunkan dan mengangkat presiden Amerika Serikat, menentukan keputusan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan Israel. - Kekurangan Bangsa Yahudi
Kelebihan yang dimiliki bangsa Yahudi ternyata menutup mata mereka terhadap bangsa dan agama-agama lain. Mereka memiliki sikap arogansi yang tinggi sehingga sulit untuk berhubungan dengan orang-orang di luar mereka dan membuat mereka dibenci. Mereka menganggap non-Yahudi tidak sederajat dengan mereka, bahkan sampai menganggapnya sebagai ghoyyim. Sebagaimana tertulis dalam Talmud dalam kitab Yehezkiel, 35:31: ”kalau demikian, kamu, Israel, dipanggil manusia, sedangkan ghoim tidak demikian halnya”. Dan juga dalam kitab Yebamoth 98a “semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”. Artinya, hanya bangsa Yahudi yang manusia dan non-mereka adalah binatang. Kalau disimpulkan, kekurangan bangsa Yahudi sebenarnya terpusat pada sikap dan perilaku mereka. Di antaranya: 1. Iri dan dengki. Karakter dan kompetensi khas Yahudi adalah iri dan dengki. Allah swt berfirman: “Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang Telah diturunkan Allah, Karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat muika sesudah (mendapat) kemurkaan dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan” Menanggapi ayat di atas, Ibnu Katsir mengatakan bahwa bangsa Yahudi iri karena ada nabi yang diturunkan Allah di luar bangsa mereka, yakni bangsa Arab. 2. Membunuh Para Nabi. Kisah terbunuhnya nabi-nabi Allah di tangan bangsa Yahudi terekam jelas oleh sejarah. Di dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka beritakanlah mereka akan azab yang pedih.” (Q.s. Alu Imran: 21)[37] Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Abu ‘Ubaidah Ibn Jarah bahwa Rasulullah SAW membaca ayat ini kepadanya tatkala beliau ditanya perihal manusia yang paling berat siksaannya di neraka. Kemudian Nabi SAW menerangkan bahwa Bani Israil telah membunuh 43 orang Nabi pada pagi hari dalam satu waktu. Kemudian datang kepada mereka para ahli ibadah di kalangan mereka sendiri yang berjumlah 112 orang menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta melarang mereka membunuh para Nabi. Namun mereka tidak mengindahkan perintah itu dan malah membunuh seluruh ahli ibadah tersebut.[38] Jadi pada hari itu mereka telah membunuh 155 hamba Allah yang salih yang menyeru kepada kebaikan. Sepadan dengan ayat di atas adalah Q.s. al-Nisa’: 155: “Maka (Kami hukum mereka), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar, dan mengatakan: "Hati kami tertutup." Bahkan, Sebenarnya Allah Telah mengunci mati hati mereka Karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka.” Kedua ayat di atas jelas menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku jahat kaum Yahudi. Mereka tega membunuh utusan Allah dan hamba-hamba-Nya yang saleh yang tidak sejalan dengan kehendak mereka. 3. Keras Kepala Kekeraskepalaan bangsa Yahudi tercermin jelas di dalam al-Qur’an. Lihat Qs. al-Baqarah: 67-71 tentang perintah Allah kepada mereka untuk menyembelih sapi. 4. Rakus dan Tamak. Yahudi adalah manusia yang sangat tamak. Sangat cinta kepada dunia sehingga mereka ingin hidup ribuan tahun lamanya, Allah swt berfirman: “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umurpanjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan“. (QS Al-Baqarah [2]: 96). 5. Suka Menyembunyikan Kebenaran Karakter Yahudi selanjutnya yang dikabarkan oleh al-Qur’an adalah mereka suka menyembunyikan kebenaran. Menukar yang hak dengan yang bathil. Mengubah ayat-ayat Allah serta menju-alnya dengan harga yang murah, Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu Mengetahui“. (QS Al Baqarah [2]: 42) 5. Suka Berkhianat. Bangsa Yahudi identik sebagai bangsa yang suka berkhianat. Dari jaman dahulu hingga sekarang, sejarah kerap mencatat penghianatan yang telah dilakukan mereka. Dulu, mereka pernah menghianati Nabi saw dan kaum muslimin mengenai Piagam Madinah di mana mereka bersekongkol dengan kaum Quraisy untuk memerangi nabi saw dan kaum muslimin di Madinah. Mereka juga berkhianat kepada nabi Musa as dan Allah swt. Sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling“. (QS. Al-Baqarah [2]: 83). Tapi apa yang dilakukan Yahudi? Justru mereka menyembah anak sapi (’ijla). Saling mengusir, saling menawan, berperang dan saling membunuh di antara mereka, Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, Kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya “. (QS Al Baqarah [2]: 84). Pengkhianatan Yahudi itu terjadi hingga hari ini. Pada tahun 1967, belum lewat sehari dari pernyataan dan janji Israel yang telah ditegaskan AS bahwa Israel tidak akan mendahului menyerang kawasan Arab. Tiba-tiba secara serentak tentara Israel menyerang berbagai Negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah. Mereka mencaplok berbagai kawasan Arab seperti gurun Sinai dan dataran tinggi Ghalan. Bahkan pada tanggal 14 Desember 1984, Sidang Umum PBB mengeluarkan surat keputusan bemomor: 146/39b yang menyebutkan bahwa file-file khusus tentang Israel serta praktek politik dan tindakan-tindakan Negara itu, menguatkan tuduhan bahwa Israel bukanlah Negara cinta damai. Israel bahkan terbukti sebagai Negara yang selalu mengingkari prinsip-prinsip kesepakatan Internasional atau perjanjian-perjanjian yang telah ia sepakati sendiri. - Tempat Tinggal Geografis
Bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa yang terusir dari tanahnya. Setiap mereka menempati suatu wilayah pasti pengusiran akan terjadi terhadap mereka. Karena tidak memiliki tempat yang tetap, mereka terseber ke seluruh penjuru dunia sampai akhirnya terealisasi pendirian negara Israel Raya di tanah Pelestina tahun 1948. Semenjak itu, mayoritas bangsa Yahudi berdomisili di sana. Ada sekitar 13-14 juta orang Yahudi diseluruh dunia. Daftar berikut ini adalah populasi yang mewakili perkiraan terendah dari populasi Yahudi seluruh dunia yang menempati sekitar 0,2 % dari seluruh populasi. | Country or Region | Jewish population | Total Population | % Jewish | | Israel | 5,393,000 | 7,117,000 | 75.8% | | United States | 5,275,000 | 301,469,000 | 1.7% | | Europe | 1,506,000 | 710,000,000 | 0.2% | | France | 490,000 | 64,102,000 | 0.8% | | Canada | 374,000 | 32,874,000 | 1.1% | | United Kingdom | 295,000 | 60,609,000 | 0.5% | | Russia | 225,000 | 142,400,000 | 0.2% | | Argentina | 184,000 | 39,922,000 | 0.5% | | Germany | 120,000 | 82,310,000 | 0.1% | | Australia | 104,000 | 20,788,000 | 0.5% | | Poland | 100,000 | 38,163,895 | 0.27% | | Brazil | 96,000 | 188,078,000 | 0.05% | | Ukraine | 77,000 | 46,481,000 | 0.2% | | South Africa | 72,000 | 47,432,000 | 0.2% | | Hungary | 49,000 | 10,053,000 | 0.5% | | Mexico | 40,000 | 108,700,000 | 0.04% | | Asia (excl. Israel) | 39,500 | 3,900,000,000 | 0.001% | | Belgium | 31,200 | 10,419,000 | 0.3% | | Italy | 28,600 | 58,884,000 | 0.05% | | Turkey | 17,800 | 72,600,000 | 0.02% | | Iran | 10,800 | 68,467,000 | 0.02% | | Romania | 10,100 | 21,500,000 | 0.05% | | New Zealand | 7,000 | 4,306,400 | 0.2% | | Greece | 5,500 | 11,100,000 | 0.05% | | Cuba | 1,500 | 11,450,000 | 0.013% | | Total | 13,156,500 | 6,455,078,000 | 0.2% | - Penutup
Dengan karakteristiknya yang etnosentrik bangsa Yahudi menganggap mereka sebagai bangsa yang superior dan di atas bangsa-bangsa lainnya. Ditambah anugrah kecerdasan yang mereka miliki, jadilah bangsa Yahudi menganggap non-mereka tidak ada apa-apanya. Sikap ini terbukti memotivasi mereka untuk terus maju dan berkembang, bahkan berambisi menguasai dunia. Namun, sadar atau tidak, sikap ini pula yang menjadi bumerang kebencian bangsa-bangsa lain di luar mereka. Tercatat dalam sejarah bahwa Yahudi kerap diusir dari tanah yang mereka tempati. Mulai dari Kan’an, Babilonia, Mesir, sampai peristiwa Holocaust yang simpang siur validitasnya, semuanya menjadikan bangsa Yahudi sebagai obyek pembantaian dan pengusiran. Akibat pengusiran inilah bangsa Yahudi tersebar ke banyak penjuru dunia. Ketertindasan ini juga berdampak pada keyakinan dan syari’at agama mereka. Wallahu A’lam bi al-showab. - Referensi
al-Thabary, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an, jil. II, (Kairo: Hajr, cet. I, 2001). Farij, Ghozi Muhammad., An Nasyat al-Sirri al-Yahudi fi al-Fikri wa al-Mumarosah, (Bairut: Daar al-Nafs, 2003). Katsir., Ibn., Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, jil. I, (Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I, 2000). http://ibudbest.blog.friendster.com/2009/08/mengapa-kaum-yahudi-bijak-pandai/ http://id.wikipedia.org/wiki/Ashkenazim Di antara dalil keistimewaan dan keterpilihan bangsa Yahudi tertulis dalam kitab Imamat 20:26: ”Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku”. Juga dalam kitab Ulangan 7:6: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” Mengenai dalil tentang tanah yang dijanjikan bahkan menurut kayakinan mereka tertulis di dalam al-Qur’an sendiri, yakni Qs. al-Maidah: 21: “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.” Khalifah Hasan memandang Yahudi memiliki pegertian yang bersifat umum dan khusus. Dalam pengertian umum Yahudi adalah nama yang diberikan kepada setiap orang yang meyakini agama Yahudi, mempercayainya, dan melaksanakan ritualnya. Yahudi adalah penisbatan kepada agama Yahudi sebagaimana Masihi adalah nisbat kepada agama al-Masih, muslim nisbat kepada agama Islam, dan seterusnya. Sedangkan pengertian khusus, Yahudi mengisyaratkan kecenderungan kepada aliran politik dan geografis tertentu. Yaitu, kerajaan Yahudza yang berada di selatan setelah kerajaan Sulaiman terpecah menjadi 2 kerajaan; Utara dan Selatan. http://id.wikipedia.org/wiki/Ashkenazim Ketika sosokmu datang menyapa ayah Kau bawa aku dalam duka fitrah Membuatku berjalan bersedu muka Melihat bumi Menetes air mata..
Kuberpikir, Apabila kau menyapaku Dalam keadaan berdosa pilu Tak pantas bagiku Bertemu Rabb-ku
Tapi kutahu, Kau akan tunggangi waktu Untuk juga menyapaku
Tapi tunggu, Izinkan aku persiapkan bekalku
Dalam setiap komunitas agama atau masyarakat pada umumnya, mereka yang menganut inklusivisme merupakan kelompok minioritas. Hal tersebut didasarkan pada sebuah kenyataan, bahwa pada umumnya komunitas agama-agama menganut eksklusivisme. Ini berarti inklusivisme adalah lawan dari eksklusivisme. Eksklusivisme merupakan suatu paham yang menganggap hanya pandangan dan kelompoknya yang benar, sedangkan kelompok lain dianggap salah. Pandangan ini didasarkan pada sebuah klaim kebenaran (truth claim) yang ada pada setiap agama. Bagi pengusung inklusivisme ataupun kaum liberal, paham eksklusivisme telah meninggalkan jejak sejarah kelam, yaitu peperangan dan konflik. Dalam sejarah perkembangan agama juga demikian. Sehingga agama tidak lagi bernuansa pencerahan dan pembebasan, melainkan bercorak konflik dan kekerasan. Atas dasar inilah kaum inklusivis menentang eksklusivisme agama dan mempropagandakan bahwa selayaknyalah pada setiap agama ditumbuhkan sikap dan paham inklusivisme. Inklusivisme merupakan paham yang menganggap bahwa kebenaran tidak hanya terdapat pada kelompok sendiri, melainkan juga ada pada kelompok lain, termasuk dalam komunitas agama. Dalam inklusivisme diniscayakan adanya pemahaman tentang yang lain yang mana selalu ada dimensi kesamaan substansi nilai. Itu artinya, kita harus memahami bahwa kebenaran dan keselamatan tidak lagi dimonopoli agama tertentu, tetapi sudah menjadi payung besar agama-agama. Dengan inklusivisme agama ini, keselamatan dan kebenaran akhirnya terus bergeser dan menganggap tidak hanya untuk agama samawi saja namun juga dimiliki agama ardhi (Kong Hu Cu, Hindu, maupun Budha). Apa yang dimau sebenarnya jelas. Seluruhnya ‘memohon’ kepada umat Islam atau umat yang lainnya agar tidak mengklaim dan mendaku agamanya adalah yang paling benar. Itu artinya semua agama adalah sama-sama benar, benar semuanya. Ini dikarenakan semua agama mengajarkan kebajikan. Sebagaimana dikatakan Syafi’i Ma’arif dalam Republika (edisi Selasa, 21 Nopember 2006), bahwa setiap agama, baik Yahudi, Nasrani, Shabi’in, bahkan yang tidak beragama sekalipun akan menemui keselamatan, asalkan berbuat kabajikan. Bangunan epistimologis teologi inklusif diawali dengan tafsiran al-Islam. Islam tidak hanya dipahami sebagai agama formal (organized religion), melainkan Islam selalu dilukiskan sebagai jalan. Sebagaimana dipahami dari berbagai istilah yang digunakan kitab suci, seperti sirath, sabil, syari’ah, thariqah, minhaj, dan mansakh. Kesemuanya itu mengandung makna “jalan”, dan merupakan metafor-metafor yang menunjukkan bahwa Islam adalah jalan menuju perkenan Allah. Menurut inklusivis, sikap pasrah kepada Tuhan menjadi inti ajaran suatu agama yang benar. Agama tanpa sikap pasrah kepada Tuhan, bagaimanapun seorang itu mengaku sebagai “muslim” atau penganut “Islam”, adalah tidak benar dan “tidak bakal diterima” di sisi Tuhan. Kesimpulannya hanya dengan sikap pasrah kepada Tuhan lah seorang hamba, apapun agama, ras atau sukunya, akan mendapat keselamatan. Pertanyaan yang muncul apakah ini berlaku bagi kaum pagan yang menyembah berhala? Toh mereka juga ada yang berbuat kebaikan dan pasrah terhadap berhala yang disembahnya. Ternyata Inklusivis tetap berkelit. Mereka mengatakan bahwa agama alam seperti animisme atau paganisme merupakan agama yang mengangkat manusia sebagai “tuan-tuan” (arbab) selain dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Dan “mengangkat sesama manusia sebagai tuan-tuan” adalah tindakan yang membelenggu dan menjerat manusia sendiri. Untuk itu hendaknya manusia berusaha membebaskan diri dari obyek-obyek yang membelenggu dan menjerat keruhanian. Percaya kepada Allah tidaklah dengan sendirinya berarti Tawhid. Sebab percaya kepada Allah itu masih mengandung kemungkinan percaya kepada yang lain-lain sebagai peserta Allah dalam keilahian. Dan inilah yang menjadi problem, yakni percaya kepada Allah atau Tuhan, namun tidak murni. Ini yang disebut Inklusivis sebagai politheisme atau syirik, yaitu kepercayaan yang sekalipun berpusat kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Allah, namun masih membuka peluang bagi adanya kepercayaan kepada wujud-wujud lain yang bersifat ketuhanan atau ilahi, meski lebih rendah daripada Allah itu sendiri. Artinya, bagi mereka, agama yang monotheisme adalah agama yang tidak terbelenggu, yakni yang mengangkat sesama manusia sebagai tuan-tuan. Agama-agama ini tidak terbatas hanya pada Islam. Pernyataan Inklusivis di atas sejatinya sangat rancu dan ambigu. Di atas mereka menolak keselamatan bagi umat yang masih ‘terbelenggu’, yakni kaum pagan penyembah berhala dan roh, kecuali jika ia telah mengucapkan kalimah syahadah versi Inklusivis. Namun di sisi lain mereka juga memasukan agama Budha dan Hindu sebagai agama pasrah yang tidak terbelenggu, yang termasuk agama ahli kitab. Bukankah agama Hindu dan Budha adalah agama penyembah berhala walaupun mempunyai kitab suci? Bukankah penganut Hindu mengagungkan Wisnu, Siwa, dan Brahma yang termanifestasi dalam bentuk patung? Berarti sama saja mereka adalah penyembah patung dengan banyak Tuhan. Itu sama halnya umat Hindu adalah penganut politheisme dan bukan monotheisme. Jadi klaim Inklusivis bahwa mereka termasuk agama monotheisme terbantahkan.
Islam adalah Din Sebenarnya maksud dari pengusung inklusivis membongkar makna Islam sangat jelas. Kesemuanya ingin menghilangkan sifat eksklusif umat Islam. Artinya dengan paham ini umat Islam tidak lagi bersifat fanatik, merasa benar sendiri dan menganggap agama lain salah. Padahal di dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Barang siapa yang mencari agama (din) selain Islam, maka ia tidak akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi.” Namun kaum inklusivis tidak kehilangan akal, mereka tetap berkelit dengan mengotak-atik ayat di atas. Jalaluddin Rakhmat dalam Islam dan Pluralisme mengatakan bahwa arti dari kata din itu adalah sejenis kepasrahan dan kerendahan. Begitu juga dengan Islam. Secara etimologi, Islam berasal dari kata aslama yang mengandung arti tunduk, berserah diri, menyerahkan atau menyampaikan, tunduk patuh, ikhlas, taat, damai atau selamat, patuh kepada perintah dan larangan yang berkuasa tanpa membantah. (Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme, Jakarta: Serambi, cet. II, 2006, hlm. 38-41). Jika demikaian, walhasil arti dari Ali Imran: 85 adalah: “Barang siapa mencari kepatuhan (din) selain kepasrahan diri (al-islam), maka ia tidak akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi.” Kesimpulan dari konsep “Islam” para inklusivis tersebut adalah bahwa setiap agama yang mengaku berserah diri dan patuh kepada Tuhan adalah Islam. Sehingga makna Islam meluas menjadi agama apapun yang mengaku berserah diri dan patuh kepada Tuhan baik itu Kristen, Yahudi, Shabi’ah, Budha, Hindu, ataupun Konghucu adalah Islam. Dan pengikutnya dijamin keselamatannya oleh masing-masing agamanya. Mengenai arti kata “Islam” ini, ada baiknya kita menyimak konsep Al-Attas yang berbicara satu bab khusus tentang konsep Islam dalam bukunya Islam and Secularism. (Lihat: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 51-95). Di situ dia mengatakan bahwa Islam adalah din (agama). Kata “din” berasal dari bahasa Arab DYN د، ي، ن) (. Arti dasar dari istilah ini dapat dipadatkan menjadi empat: (1) keadaan berhutang, (2) kepatuhan, (3) kekuasaan yang bijaksana, dan (4) kecenderungan atau tendensi alamiah. Keempat arti ini saling berkaitan membentuk makna yang satu. Menurut al-Attas ketika dilahirkan manusia berhutang kepada Allah yang telah menciptakannya. Dalam kelahirannya di dunia manusia tidak memiliki apa-apa dan terlunta-lunta. Dalam perjalanannya, apa yang didapatnya di dunia ini harus disadari adalah berkat dari Allah. Dengan kata lain ia telah berhutang kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga ia harus “membayar” hutang itu. Setelah menyadari bahwa ia sama sekali tak memiliki sesuatu pun untuk membayar hutangnya, kecuali kesadarannya sendiri akan kenyataan bahwa dirinya merupakan substansi dari hutang tersebut, maka ia harus “membayarnya” dengan dirinya sendiri, dan “mengembalikan” dirinya kepada Allah yang memilikinya secara mutlak. Dirinya sendiri adalah hutang yang harus dikembalikan kepada pemiliknya, dan “pengembalian hutang” ini berarti memasrahkan diri untuk berbakti, tunduk, patuh dan berkhidmat kepada Tuhan dan penguasaan-Nya. Ketertundukan dan kepatuhan hamba ini merupakan hal yang wajar karena pengabdian itu muncul sebagai sebuah kecenderungan alamiah (fitrah) di dalam dirinya. Kecenderungan alamiah untuk tunduk ini disebut al-Attas sebagai din. Jadi, din yang dimaksud adalah ketundukan yang sadar dan sukarela. Karena jika ketundukan yang dilakukan tanpa sadar atau rela, tidak dapat diartikan sebagai ketundukan yang benar. Tidak semua agama melaksanakan ketundukan secara benar. Ketundukan yang sejati adalah yang beroperasi di dalam hati dan terwujud dalam perbuatan fisik seperti perbuatan yang dilakukan dalam mematuhi hukum Allah. Inilah yang disebut al-Attas sebagai aslama. Ia merujuk Q.S. An-Nisaa: 125, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya (din) daripada orang yang menundukkan (aslama) wajahnya (seluruh jiwanya) kepada Allah...” Din yang dimaksud di atas, menurut al-Attas tidak lain adalah Islam. Banyak berbagai bentuk agama yang ada namun hanya Islam yang menunjukkan ketundukan total (istislam) kepada Allah semata, dan inilah satu-satunya agama yang dapat diterima Allah. Sehingga berbeda dengan tafsiran kaum inklusivis terhadap Q.S. Ali Imran: 85, al-Attas menafsirkannya, “If anyone desires a religion (din) other than Islam (al-Islam), never willit be accepted of him...” (Jika seseorang menghendaki sebuah agama (din) selain Islam (al-Islam), niscaya agamanya itu tidak akan diterima…) Juga mengenai Q.S. Ali Imran: 19, al-Attas mengartikannya, “Verily the Religion (al-din) in the sight of God is Islam.” (Sesungguhnya agama (al-din) yang dipandang Allah adalah Islam). Lihat betapa jauh berbeda tafsiran al-Attas dengan tafsiran yang dikatakan oleh Jalaluddin Rakhmat. Menerima ajaran Islam berarti menjadikannya way of life. Di mana di dalamnya seseorang harus memiliki pandangan hidup Islami dan terwujud dalam dimensi lahir dan batin. Seseorang yang mengakui Allah sebagai Tuhannya harus mengaplikasikan pengakuannya itu dengan berserah diri dan tunduk terhadap hukum-Nya dengan konsekuensinya menjadikan Islam sebagai agamanya. Sekali lagi, sikap berserah diri mestilah bersifat lahir dan batin. Tidak boleh hanya memperhatikan aspek batiniyyah namun meninggalakan aspek lahiriyyah. Inilah yang dicela Ibn al-‘Arabi. Baginya golongan batiniyyah yang hanya menerima aspek-aspek batin hukum syari’ah dan meninggalkan aspek-aspek lahirnya adalah mereka yang sebenarnya menelantarkan hukum syari’ah (ta’til ahkam al-syar’i), meruntuhkan dasar agama yang disyari’atkan (hadm qa’idah diniyyah masyru’ah), dan menyimpang dari kehendak Allah (‘udul ‘amma arada al-syari’ bi al-ahkam). Ibn ‘Arabi menambahkan bahwa golongan batiniyyah tersebut adalah golongan yang tercela secara mutlak. Berpijak pada celaan Ibn ‘Arabi di atas, terlepas dari agama Islam, apa yang disebut golongan batinyyah ternyata dapat dilihat dari praktek sebagian agama-agama yang ada, Hindu dan Budha tepatnya. Keduanya lebih menekankan cara hidup asketik yang cenderung menghindari dunia. Dan cara beragama seperti ini tidaklah cukup ataupun tidak sama dengan konsep beragama dalam Islam. Akhirnya dapat kita katakan bahwa Hindu dan Budha memiliki konsep beragama yang beda dengan Islam. Kembali kepada konsep keselamatan ahli kitab, dari sini terlihat bahwa penggunaan kata Islam bukanlah untuk semua agama. Artinya, tidak semua agama dapat dikatakan Islam. Islam merupakan agama tersendiri dan merupakan sistem kehidupan. Di sini dibuktikan bahwa Nasrani, Yahudi, Majusi, bahkan Hindu maupun Budha bukanlah Islam sebagaimana yang dikatakan kaum Inklusivis. Islam tidak hanya cukup berserah diri dan patuh kepada Tuhan. Karena dalam Islam seorang hamba harus menjalankan segala syari’at yang ditentukan Allah dan rasul-Nya (Muhammad SAW) yang bersumber dari al-Qur’an dan al-hadits. Agama-agama yang ada, selain Islam, ternyata tidak melaksanakan apa yang disyari’atkan Allah SWT. Sebagai contoh mengakui kerasulan Muhammad. Dengan mengingkarinya berarti mengingkari perintah Allah. Ini berarti sebuah pembangkangan terhadap Allah. Tidak ada bedanya dengan pembangakangan yang dilakukan kaum-kaum, seperti ‘Ad, Tsamud, Sodom, yang diceritakan dalam al-Qur’an. Ataupun tidak berbeda dengan iblis yang mengakui adanya Allah namun menentang perintah-Nya.
Kesimpulan Mungkin banyak orang mengira dan menilai bahwa inklusivisme agama yang ditawarkan kaum inklusivis adalah relevan untuk saat ini. Nafas yang dibawa seolah toleran dan membawa perdamaian. Namun sejatinya dari pembahasan singkat di atas terlihat bahwa konsep inklusivisme tersebut menimbulkan chaos, kerancuan, bahkan kehancuran. Kehancuran yang ditimbulkan tepatnya adalah kehancuran akidah. Inklusivisme agama ini membawa relativisme sehingga keabsolutan Tuhan dipertanyakan. Karena ternyata semua tuhan-tuhan yang digambarkan dalam ibadah agama-agama bukanlah tuhan yang sebenarnya. Atau bisa jadi tuhan-tuhan itu adalah benar semuanya. Artinya, Allah SWT, Tuhannya ummat Islam sama persis dengan Brahmanya orang Hindu, atau Yesusnya orang Kristen, atau Yahwehnya orang Yahudi. Karena toh bagi inklusivisme semuanya benar. Posisi Islam sangat jelas menentang paham ini. Islam sebagai din tidak cukup hanya sebagai sebuah kepasrahan dan ketundukan. Kepasrahan yang benar adalah dengan penyerahan diri kepada ke-Esaan Tuhan. Inilah yang membedakan Islam dengan agama-agama lainnya. Walaupun agama-agama itu mengaku mengesakan Tuhan, namun kenyataan praktek ibadah dan ajarannya sangat amat terbalik dengan konsep ke-Esaan Tuhan. Uzair dan Yesus merupakan bukti kreasi angan-angan Yahudi dan Kristen dalam menyekutukan Tuhan. Padahal Tuhan sendiri tidak beranak dan tidak diperanakkan. Inilah yang membedakan Islam dengan agama-agama lainnya. Sehingga akhirnya terbukti bahwa inklusivisme keagamaan yang ditawarkan Inklusivis sangat tidak tepat untuk diterapakan dalam agama Islam. Para Inklusivis mungkin tidak membayangkan ternyata konsep inklusivisme agamanya membawa kekacauan. Seorang penganut Hindu bisa saja mengatakan saya ini menurut para Inklusivis adalah Muslim, dan saya akan masuk surga. Atau dengan konsep ini nantinya kita dapat menyaksikan seorang kyai di tangan kanannya memegang tasbih, sedang di tangan kirinya memegang Bibel dan berkumpul bersama-sama santrinya seraya mengucapkan haleluya, Tuhan memberkatimu. Na’udzubillah.
*Serambi CIOS-PKU, 6 februari 2009.
 | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Anis Malik Thoha |
Pluralisme agama pada awalnya ternyata digaungkan oleh para misionaris kristen dengan tujuan untuk melemahkan agama-agama lain, khususnya Islam. Tapi ternyata justru tren itu juga mengerogoti agama kristen itu sendiri.
Dr.Anis Malik Thoha, satu-satunya pakar pluralisme agama di indonesia telah meluncurkan karya luar biasanya, yakni Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis. Buku ini pernah mendapatkan perhargaan ilmiah bergengsi setelah bukunya berjudul “ Al ta’adudiyah al Diniyah: Ru’yah Islamiyah “ ( Kuala Lumpur : IIUM, 2005 ), yang kemudian diterjemahkan ke dalam edisi Bahasa Indonesia yang menjadi buku ini.
Dalam bukunya, Anis mengutip definisi populer dari Pluralisme Agama yang dirumuskan John Hick. “..pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama – agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap Yang Real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi dan bahwa tranformasi wujud manusia dari pemustan diri menuju pemusatan _ hakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing – masing pranata kultural manusia tersebut terjadi, sejauh yang dapat diamat, sampai pada batas yang sama.”
Dengan kata lain, Hick ingin menegaskan bahwa sejatinya semua agama adalah merupaka manifestasi – masifestasi dari realitas yang satu. Dengan demikian semua agama sama dan tak ada yang lebih baik dari yang lain. Sangat jelas, rumusan Hick tentang pluralisme agama diatas adalah berangkat dari pendekatan substantif, yang mengungkung agama dalam ruang ( privat ) yang sangat sempit, dan memandang agama lebih sebagai konsep hubungan manusia dengan kekuatan sakral yang transendental dan bersifat metafisik ketimbang sebagai suatu sistem sosial.
Dengan demikian telah terjadi proses pengebirian dan “reduksi” pengertian agama yang sangat dahsyat. Sesungguhnya, pemahaman agama yang reduksinstik inilah yang merupakan “pangkal permasalahan” sosio-teologis modern yang sangat akut dan komplek yang tak mungkin diselesaikan dan ditemukan solusinya kecuali dengan mengemalikan “agama” itu sendiri ke habitat aslinya. Ketitik orbitnya yang sebenarnya, dan kepada pengertiannya yang benar dan komprehensif, tak reduksionisti.
Menurut Anis, ternyata “pemahaman reduksionistik” inilah justru yang semakin populer dan bahkan diterima di kalangan para ahli dari disiplin ilmu dan pemikiran yang berbeda, hingga menjadi sebuah fenomena baru dalam pemikiran manusia yang secara diametral berbeda dengan apa yang sudah dikenali secara umum.
Yang unik dalam fenomena baru ini adalah bahwa pemikiran “persamaan” agama (religious equality) ini, tidak saja dalam memandang ekssistensi riil agama-agama ( equality on exixtence), namun juga dalam memandang aspek esensi dan ajrannya, sehingga dengan demikian diharapkan akantercipta suatu kehidupan bersama anatar agama yang harmonis, penuh toleransi, saling menghargai atau apa yang diimpikan oleh para “pluralis” sebagai “pluralisme agama”. Alih alih menciptakan kerukuan dan toleransi, paham pluralisme agama itu sendiri sebenarnya sangat tidak toleran, otoriter, dan kejam, karena menafikan kebenaran semua agama, meskipun dengan jargon menerima kebenaran semua agama.Dengan dalih Piagam Hak Asasi PBB, maka semua agama harus tunduk dan patuh. Bahkan penganutnya mengangap Piagam PBB lebih pluralisme agama.  Huntington pernah mengatakan, "Agama adalah karakteristik sentral yang menentukan dalam peradaban." Sayyed Hossein Nasr mengamini dengan memberi judul bukunya: “Islam: Religion, History, and Civilization”, dengan unsur utama Islam sebagai peradaban yang sangat berperan dalam pembentukan Peradaban Eropa dan Amerika. Menarik untuk ditelaah bagaimana kontribusi agama dalam menciptakan peradaban. Tak terkecuali Islam. Sejak munculnya sampai sekarang banyak fakta yang menunjukkan bahwa agama ini (Islam) telah memberikan sumbangsihnya untuk kemajuan, tidak hanya individu pemeluknya namun juga kemajuan dunia secara universal. Sumbangsih tersebut berawal dari tradisi keilmuan Islam yang kemudian membentuk peradaban Islam tersendiri dengan corak yang berbeda. Namun saat ini Islam dengan peradabannya menghadapi tantangan besar yang siap merusak. Dia adalah liberalisasi, liberalisasi pemikiran khususnya. Umat Islam berada pada posisi 'face to face' dengan proyek liberalisasi yang gencar dilakukan Barat dan antek-anteknya. Apa yang ditujukan? Pastinya bisa terjawab, yakni kehancuran Islam dan peradabannya.
Liberalisme Pemikiran; Akar dan Bahayanya Ketika terjadi revolusi Perancis abad ke-18 (1789), ketika itu pula paham liberalisme keagamaan berkembang di Barat. Namun akar dari itu dapat dilacak seabad sebelumnya (abad ke-17). Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik, dan ekonomi dari tataran moral, supernatural, dan bahkan Tuhan. Obsesi tersebut akhirnya menghasilkan Magna Charta Liberalisme yang konsekuensinya adalah penghapusan Hak-Hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan; penyingkiran agama dari kehidupan publik dan menjadikannya bersifat individual. Bisa disimpulan bahwa liberalisme keagamaan ini merupakan produk asli Barat. Lahirnya paham ini saja sudah mengandung masalah. Maka apa yang ditawarkannya juga tidak terlepas dari masalah. Namun menjadi ironi ketika paham itu ditawarkan ke luar Barat. Islam khususnya. Yang terjadi kemudian sebagaimana diungkap al-Attas bahwa liberalisme sebagai paham yang dibawa Westernisasi akan berdampak pada kebingungan dan skeptisisme. Dengan banyak ditemukannya hal baru di bidang teknologi, paham liberalisme keagamaan yang semula hanya berkembang di Barat juga terasa dampaknya di belahan bumi lainnya, tak terkecuali di negara-negara Islam. Hamid Fahmy dalam bukunya Liberalisasi Pemikiran Islam: Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis menyebutkan ketiga kelompok tersebutlah (Missionaris, Orientaslis dan Kolonialis) yang menjadi agen penyebaran paham ini. Ini berarti ada gerakan bersama yang dilakukan organisasi Barat untuk sengaja 'memasarkan' paham liberal tadi. Pertama yang 'digarap' oleh kaum liberal adalah wilayah keilmuan. Mereka sering mengadakan forum, kelompok diskusi, maupun seminar keilmuan demi untuk menanamkan paham mereka. Jika ilmu sudah tercampuri, maka amal perbuatan juga akan terkontaminasi mengikut apa yang menjadi pemikirannya. Terkhusus di Indonesia, penyebaran paham ini telah menarik berbagai kalangan yang memang prihatin untuk segera membendungnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasionalnya ke-7 (Juli 2005) di Jakarta telah melarang paham ini, begitu juga Muktamar Nahdhatul Ulama (NU) ke-35 di Boyolali. Namun gayung tak bersambut, kedua putusan organisasi Islam tersebut tidak diamini dengan putusan resmi pelarangan dari pemerintah Indonesia. Apa yang terjadi kemudian adalah putusan tersebut bak macan ompong, tak dihiraukan. Padahal sebagaimana dikatakan Adian Husaini dampak liberalisme keagamaan ini sejatinya:
1. Menghacurkan akidah Islam dengan menyebarkan paham pluralisme agama. 2. Meruntuhkan bangunan syari’at Islam dengan program ‘kontekstualisasi ijtihad’ dan menggunakan metodologi interpretasi hermeneutika terhadap al-Qur’an. 3. Membongkar konsep al-Qur’an sebagai wahyu Allah. 4. Membongkar konsep-konsep dasar Islam. 5. Meruntuhkan otoritas ulama dalam pemahaman Islam. 6. Mendukung kerusakan akhlak, dengan berpegang pada paham liberalisme dan relativisme moral.
Enam alasan Adian di atas setidaknya dapat menjadi lampu peringatan bagi ummat Islam akan bahayanya paham liberal keagamaan. Khususnya bagi agama Islam. Sebagaimana telah dikatakan di atas bahwa agama merupakan fondasi terpenting dalam membangun peradaban, maka ketika paham liberalisme keagamaan ini menyebar di kalangan ummat Islam, ia akan merusak agama Islam. Dan ketika agama Islam itu sudah rusak bisa dilihat bagaimana peradaban Islam juga akan rusak bahkan hancur.
Akhirul Kalam Membiarkan paham liberalisme keagamaan menyebar amat sangat berbahaya. Apa yang terjadi selanjutnya hilangnya kepercayaan pada otoritas ulama, dan konsep ilmu dalam Islam akan runtuh. Jika ilmu Islam yang telah membangun peradaban tadi rusak, maka agama Islam juga akan rusak. Sehingga akhirnya peradaban Islam hanya tinggal kenangan. Untuk menjaga hal itu dari kehancuran, ada baiknya kita menyimak saran Hamid Fahmy berikut:
1. Menanamkan kesadaran di kalangan ummat Islam dan sekaligus menunjukkan bukti-bukti ilmiah bahwa paham-paham dari peradaban Barat yang berupa sekulerisme, liberalisme, feminisme, pluralisme agama, relativisme dsb. yang saat ini sedang melanda dunia Islam tidak sesuai dan bertentangan dengan pandangan hidup Islam. 2. Memperluas tradisi dan materi bahtsul masail dari pemikiran ulama di masa lalu dalam berbagai bidang, kepada pemikiran-pemikiran orientalis dan kalau mungkin pemikiran Barat secara umum yang menjadi tantangannya. 3. Semua lembaga Islam, baik pendidikan, ekonomi, dakwah, dan lain-lain perlu memikirkan secara serius langkah kaderisasi ummat dalam bidang agama. 4. Badan-badan usaha ummat Islam dan juga pengusaha-pengusaha Muslim perlu ikut berjuang dengan hartanya untuk mendukung langkah-langkah yang diambil oleh lembaga pendidikan dan lembaga dakwah Islam.
Berangkat dari pentingnya peranan agama dalam suatu peradaban, maka dapat dijelaskan bahwa tanda-tanda kehancuran suatu peradaban dapat dilihat sejauhmana unsur utama (agama) dalam peradaban tersebut tetap terpelihara dengan baik. Unsur tersebut tak terlepas dari tradisi keilmuan yang mengitarinya. Agama Islam dengan tradisi keilmuannya telah membangun peradaban Islam dan dunia dengan sedemikian rupa. Sehingga hal itu harus terus dijaga oleh semua ummat Islam di seluruh dunia. Liberalisme keagamaan yang saat ini sedang mengguncang dunia Islam adalah penghancur peradaban Islam. Paham ini menyerang ranah keilmuan dengan penawaran kebingungan dan skeptisisme. Jika otoritas keilmuan sudah menjadi skeptik, membingungkan, dan relatif, maka tiada kebenaran yang hakiki. Kebenaran Islam dipertanyakan. Sehingga perlu disadari bahwa agama Islam dan tradisi keilmuannya-lah yang telah membentuk peradaban. Apabila hilang tradisi keilmuan Islam ini disebabkan paham liberal tadi, bisa dibayangkan akan hilang pula peradaban Islam yang telah terbangun sejak lama. Wallahua'lam bi as-shawab
* Pojok Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 10 Februari 2009.
Muqoddimah Doktrin keselamatan (doctrine of salvation) yang ditawarkan oleh agama-agama menjadi stimulus khusus terciptanya persinggungan di antara agama-agama tersebut. Di satu sisi konsep ini akan menunjukkan ke-absahan atau ke-absurdan suatu agama. Namun di sisi lain konsep ini telah menciptakan konflik berkepanjangan yang membawa banyak korban. Masing-masing agama dengan truth claim-nya memonopoli bahwa keselamatan hanya miliknya. Kaum pluralis tidak setuju dengan konsep ini karena bagi mereka keselamatan adalah milik semua agama, tidak dimonopoli satu agama. Sehingga mereka menentang paham ekslusivisme agama ini. Mereka menawarkan inklusivisme agama yang tindak lanjutnya adalah pluralisme. Dalam hal ini, mereka berpendapat bahwa semua agama adalah sama. Sama di sini dalam bentuk tujuan (Tuhan) yang hendak dicapai oleh masing-masing agama tersebut. Baik Islam, Kristen, Yahudi, Majusi ataupun kaum Shabiah kesemuanya mengajarkan akan kebaikan yang diperintah oleh Tuhan yang satu (sama) walaupun interpretasi tentang Tuhan yang digambarkan oleh masing-masing agama berbeda. Namun sejatinya bertitik-temu pada dimensi batin, internal, esoteris, yang berada di dalam domain transenden. Jika dinyatakan demikian maka Allah SWT yang diimani oleh umat Islam sama dengan Yesusnya orang Kristen atau Brahmanya orang Hindu. Di sinilah pluralisme berbicara. Pemaparan ringkas di atas menunjukkan kesatuan transcendental (transcendent unity) adalah istilah kunci dalam wacana titik-temu antar agama. Al-Attas, menolak secara kritis gagasan itu. Menurut al-Attas, makna sebenarnya dari ‘kesatuan’ itu sendiri tidaklah jelas. Apakah ‘kesatuan’ itu berarti ‘persamaan’? Jika begitu, maka jelas keliru, sebab konsep Tuhan dalam Islam jelas berbeda dengan agama-agama lain. Al-Quran menyebutkan: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam” (5:72). Selain itu, al-Quran juga menyebutkan: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” (5: 73). Selain itu juga, al-Quran ada menyebutkan: “Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu putera Allah dan orang Nasrani berkata al-Masih itu putera Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling? Jika ‘kesatuan’ yang dimaksud berarti adanya ‘ketidaksamaan’ dan ‘diversifikasi’ dalam level transenden dan makna ‘kesatuan’ tadi adalah keterkaitan antara bagian-bagian yang membentuk satu bentuk yang terpadu, maka agama di situ hanya sebagai satu komponen yang ‘kurang’, yang dengan kekurangannya bersama-sama membentuk satu unity yang saling berkaitan agar terlihat sempurna. Jika ini yang dimaksud ‘kesatuan’ (unity), maka dalam level eksoteris (zahir), di mana manusia memiliki keterbatasan – maka agama apapun menjadi tidak sempurna, karena agama yang satu tidak dapat menjalankan fungsinya dengan eksis tanpa agama lain. Ini jelas pendapat yang salah, karena agama Islam mampu eksis menjalankan fungsisnya tanpa agama lain. Justru kehadiran Islam adalah untuk menyempurnakan agama-agama yang telah ada. Islam adalah agama yang sempurna dan menyempurnakan. Jika yang dimaksud dengan ‘transenden’ adalah kondisi ontologis absolut, yang selalu tetap ada – maka pada tingkatan ini pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain. Dalam kondisi ontologis yang absolut seperti itu, agama-agama lain memahami Tuhan sebagai rabb bukan ilah. Iblis juga memahami Tuhan sebagai Rabb, bukan sebagai Ilah. Jadi, mengetahui Tuhan sebagai rabb tidak berarti mengetahui-Nya sebagai ilah. Ketika orang hanya memahami Tuhan hanya sebagai Rabb, ia tidak mesti menyembah-Nya. Namun ketika ia memahami-Nya sebagai Ilah, ia akan tunduk dan patuh terhadap-Nya. Jika hanya mengakui Tuhan namun mengingkari cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui-Nya, maka seseorang itu akan disebut kafir karena ia tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya. Iblis yang mempercayai Tuhan yang satu, mengakui-Nya sebagai pencipta alam semesta, masih juga di sebut kafir disebabkan pengikaran kepada perintah-Nya. Jadi, bentuk cara, jalan, sama pentingnya dengan mengakui-Nya. Jika yang dimaksud dengan transenden itu adalah merujuk kepada kondisi psikologis pada level pengalaman (experience) dan kesadaran maka makna ‘kesatuan’ seperti itu tidak dapat disebut sebagai ‘agama’, tetapi hanya merupakan pengalaman keagamaan (religious experience). Maka, untuk apa agama diturunkan kepada masyarakat dan seluruh manusia, jika dikatakan, mereka tidak pernah bisa sampai dan bersatu pada level transenden itu?
Islam = Berserah Diri? Untuk terus ‘menyamakan’ semua agama, kaum pluralis juga membongkar arti Islam. Bagi mereka Islam adalah ketundukan atau penyerahan diri (submission). Argumen mereka berdasarkan al-Qur’an Surat Ali Imran 78. Terjemahan mereka seperti ini: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah islam” (sikap berserah diri kepada Allah). Juga surat Ali Imran 85 yang diterjemahkan sebagai berikut: “Barangsiapa mencari selain islam (sikap berserah diri kepada Allah) itu sebagai agama, maka sama sekali tidak akan diterima dari dia, dan di akhirat dia akan tergolong mereka yang merugi.” Jadi, Islam hanyalah salah satu bentuk dari berbagai bentuk ketundukan atau penyerahan diri (kepada Tuhan) yang lain. Implikasinya, agama – agama lain sebelum Rasulullah saw. juga Islam karena Islam adalah misi dari risalah semua nabi. Schuon, Nasr dan yang lain-lain kemudian berpendapat bahwa Islam bukan saja merujuk secara spesifik kepada wahyu al-Quran, tetapi secara umum merujuk kepada agama lain seperti Yahudi, Kristen, Hindu, Zoroastria dan Budha. Jadi, sekalipun Islam adalah agama yang benar, tetapi agama-agama lain juga benar. Pendapat yang menerjemahkan Islam sebagai sikap berserah diri kepada Allah saja adalah tidak tepat karena Islam adalah nama agama. Islam meluruskan sikap berserah diri yang dilakukan agama-agama lainnya. Dalam Islam berserah diri tidak cukup hanya pada dimensi batin. Ilmu dan amal juga dibutuhkan. Islam tidak membenarkan orang Kristen yang berserah diri kepada Allah namun menyembah Isa yang diyakininya sebagai anak Tuhan. Atau mempercayai eksistensi Allah namun menyembah Uzair dalam kasus Yahudi. Ini sama saja bohong. Sikap berserah diri yang diajarkan Isa dan Musa tidak menjamin agama Yahudi dan Nasrani adalah agama yang berserah diri kepada Allah. Jadi, tidak tepat jika memaknai ‘islam,’ dengan sikap berserah diri agama Yahudi dan Kristen atau agama –agama lain. Nabi Ibrahim as. di sebut al-Quran sebagai seorang yang berserah diri (muslim), tetapi dengan sikapnya yang berserah diri kepada Alllah dia tidak di sebut sebagai Yahudi atau Kristen. Surat Ali Imran 67 menyebutkan: Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (muslim) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
Kesimpulan Tulisan ringkas di atas menunujukkan bahwa titik temu agama-agama dengan menyamakannya pada level esoteris adalah nonsens. Ini terbukti bahwa Islam berbeda dengan semua agama-agama yang ada. Dan masing-masing agama memiliki konsep Tuhan yang ekslusif atau berbeda satu sama lain. Ekslusifisme agama merupakan hak induvidu rumah tangga suatu agama. Setiap agama berhak mempunyainya. Namun yang terpenting adalah pengujian terhadap klaim kebenaran itu. Dapatkah setiap agama mempertahankan kebenarannya sehingga kebenaran yang absolut dapat tercapai. Dan pengujian itu dimulai dari sumber setiap agama yang menjadi pedomannya, yakni kitab sucinya. Sejauh ini dengan berbagai penelitian yang dilakukan terhadap kitab suci, hanya al-Qur’an lah yang terbukti tidak memiliki celah. Kebenaran yang diajarkan dalam al-Qur’an adalah absolut. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa Islam tidak hanya sebuah agama yang berserah diri yang terhenti hanya sampai dimensi batin. Ilmu dan amal juga diperlukan. Kepercayaan dalam batin harus diaplikasikan dengan tindakan. Kepercayaan akan Tuhan, berarti tunduk dan mematuhi-Nya dengan perbuatan. Apabila hanya percaya tanpa mematuhinya, iblis pun melakukannya. Sehingga iblis dicap sebagai makhluk pembangkang yang dijanjikan neraka oleh Allah. Inilah juga yang ditujukan kepada pengikut agama-agama lain yang membangkang terhadap Allah. Bagi mereka tiada keselamatan kecuali dalam Islam. Renungan di Pojok CIOS,by Arma elghomy. | 04.Doa Anak Sholeh | | | | | | | Track 08 | | title | | artist | | | In-Team - 1.02 Impian Kasih | | | | | |
 | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Hamid Fahmy Zarkasyi |
Liberalisasi pemikiran keagamaan Islam yang akhir-akhir ini dianggap dan diklaim sebagai “pembaharuan pemikiran Islam”, ternyata tidak bersumber pada konsep-konsep kunci Islam. Liberalisasi pemikiran ini ternyata mengusung paham-paham yang terdapat dalam pandangan hidup dan kebudayaan Barat. Hal ini akan nampak jelas jika kita memahami dengan baik dan betul hakikat Barat yang menjadi sumbernya. Sebab setiap konsep, paham, sistem, dan bahkan ilmu pengetahuan dibentuk oleh pandangan hidup suatu bangas atau agama. Namun sebagai seorang muslim memahami peradaban Barat adalah melihatnya dengan perspektif Islam. Jika tidak kita akan kehilangan sikap kritis dan akhirnya akan cenderung bersikap apresiatif secara berlebihan. Buku ini memaparkan fakta-fakta bahwa akar liberalisasi pemikiran keagamaan Islam itu ternyata merupakan hasil adopsi pemikiran Barat moden dan postmodern yang mengusung doktrin sekulerisme, relativisme, pluralisme, feminisme, dsb. Namun karena paham-paham itu dijustifikasi dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang ditafsirkan secara sepihak, maka seakan-akan merupakan tajdid pemikiran Islam. Kekuatan paham ini pada proses penyebarannya yang menggunakan kendaraan lama yaitu tradisi orientalisme, semangat gerakan missionarisme dan kepentingan politikdan ekonomi kolonialisme yang menjadi sponsor dan donaturnya. Buku ini membuktikan itu semua.   | Hamba-MU | Feb 4, '09 11:39 PM for everyone |
| |